15 Mar 2013

Isu Gambar Lelaki Mirip Anwar Berasmara Bersama Seorang Lelaki

https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/3513_571806669503701_309248124_n.jpg

Heboh diperkatakan tentang gambar-gambar lelaki mirip Anwar sedang melakukan hubungan intim bersama seorang lelaki di dalam sebuah bilik (mungkin hotel). Visual tersebut kemungkinan dirakamkan oleh kamera CCTV dan oleh kerana itu ia tampil dengan Hitam Putih.

Tidak kisahlah apapun 'isu' yang akan dimainkan selepas ini. "Saiz perut tak sama', 'kewujudan jam omega', atau lain-lain. Tetapi yang hendak saya kongsikan disini ialah tentang ADAB KITA SEBAGAI UMAT NABI MUHAMMAD SAW KETIKA BERHADAPAN DENGAN BERITA BERZINA YANG BELUM SAHIH (YAKIN) KEBENARANNYA.

HUKUM MENUDUH ORANG BERZINA

Apa itu ‘Qadzf’?

Secara bahasa makna kata ‘Qadzf’ adalah ‘ar-Rom-yu bisy-Syay-’i (menuduh sesuatu). Sedangkan secara istilah adalah menuduh berzina atau melakukan liwat (homoseksual)

‘Qadzf’ terbahagi kepada dua jenis:
Pertama, ‘Qadzf’ yang pelakunya dikenakan hukum ‘Hadd’ (hukuman yang telah ditetapkan ukurannya berdasarkan al-Qur’an atau hadits)
Kedua, ‘Qadzf’ yang pelakunya dikenakan sanksi ‘Ta’zir’ (hukuman yang dijatuhkan berdasarkan kebijaksanaan penguasa pemerintahan Islam)

Bentuk ‘Qadzf’ yang pelakunya (Qadzif) dikenakan hukuman ‘Hadd’ adalah menuduh seorang Muhshon (yang sudah menikah) melakukan zina, menafikan nasabnya atau menuduhnya melakukan liwat.

Sedangkan bentuk ‘Qadzf’ yang mana pelakunya dikenakan sanksi ‘Ta’zir’ adalah menuduh secara tidak terang-terangan terkait dengan hal-hal di atas atau menuduh dengan selain itu.

Hukum ‘Qadzf’ adalah HARAM berdasarkan nash al-Qur’an, hadits dan Ijma’. Allah SWTberfirman, “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS.an-Nur:4)

Di dalam kitab ‘ash-Shahihain’ (Shahih al-Bukhari dan Muslim), dari hadits Abu Hurairah, bahawasanya Nabi SAW bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang mencampakkan…. (salah satunya beliau menyebutkan)… al-Qadzf.”

Para ulama juga telah bersepakat (Ijma’) bahawasanya ‘Qadzf’ tersebut merupakan salah satu dosa besar (Kaba’ir).

Ibn Rusyd mengatakan, “Para ulama sepakat bahawa disamping diwajibkannya hukum hadd, maka persaksiannya (Qadzif) gugur selama belum bertaubat. Mereka juga bersepakat bahwa taubat tidak dapat membatalkan hukuman ‘hadd.’

Hadits Pertama

Dari Aisyah RA, dia berkata, “Ketika telah turun ‘udzurku Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar lalu menyinggung hal tersebut dan membacakan ayat al-Qur’an. Tatkala turun (dari mimbar), beliau memberintahkan agar didatangkan dua orang laki-laki dan seorang wanita agar dilakukan hukum hadd (terhadap mereka).” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Empat Imam hadits lainnya, serta diisyaratkan juga oleh al-Bukhari)

Kualiti Hadits

Kualiti hadits di atas adalah Hasan . Hal ini ditegaskan oleh at-Turmudzi yang berkata, “Hasan Gharib, kami tidak mengenalnya selain dari hadits Ibn Ishaq.” Al-Mundziri berkata, “Terkadang Ibn Ishaq menyebutkan sanadnya dan terkadang menyampaikannya secara Irsal (sebagai hadits Mursal).”

Kosa Kata Hadits

Maksud ungkapan: ‘Udzurku’ adalah tatkala perihal ‘keterbebasan’ ash-Shiddiqah (‘Aisyah) dari tuduhan berzina terhadapnya dan dihukum ‘bebas dari tuduhan itu’ seperti yang disebutkan dalam Surah an-Nur, mulai dari firman-Nya, Innalladziina Jaa’uu bil Ifki….

Maksud ungkapan: ‘dua orang lelaki’ adalah Hassan bin Tsabit al-Anshari dan Misthah bin Utsatsah bin ‘Abbad bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushai, al-Qurasyi al-Muththalibi. Kedua orang ini terlibat dalam penyebaran ‘kabar burung’ mengenai ‘Aisyah RA

Maksud ungkapan: ‘Seorang wanita’ adalah Hamnah binti Jahsy bin Ri’ab, dari Bani Asad bin Khuzaimah. Ia adalah saudari kandung dari Zainab binti Jahsy, Ummul Mukminin. Dia adalah isteri Mush’ab bin ‘Umair yang gugur dalam perang Uhud lalu dinikahi oleh Thalhah bin ‘Ubaidullah

Pelajaran Hadits

1. ‘Qadzf’ adalah menuduh berzina atau melakukan liwath, dan termasuk salah satu dosa besar (Kaba’ir)

2. Aisyah RA binti ash-Shiddiq, Abu Bakar menghadapi fitnah keji. Ia dituduh telah berbuat maksiat dengan seorang sahabat, Shafwan bin al-Mu’aththal. Maka, Allah SWT pun membebaskannya dari tuduhan keji tersebut sehingga menambah kesucian dan kemuliaannya. Betapa tidak, yang membebaskannya tidak lain adalah al-Qur’an sendiri (ayat dari surat an-Nur) yang senatiasa dibaca hingga hari Kiamat.

3. Ketika ayat yang membebaskannya turun, Nabi SAW memberitahukan hal itu kepada kaum Muslimin. Beliau membaca ayat al-Qur’an itu di atas mimbar, kemudian turun dari situ lalu minta dihadirkan dua orang lelaki yang melemparkan tuduhan, iaitu Hassan bin Tsabit dan Misthah bin Utsatsah serta seorang wanita bernama Hamnah binti Jahsy. Beliau SAW melaksanakan hukuman ‘hadd’ kepada mereka kerana telah terbukti dengan sangat meyakinkan pembohongan mereka.

4. Hadits di atas menunjukkan berlakunya hukum ‘Qadzf’, hadd-nya dan kewajiban menegakkannya terhadap ‘Qadzif’ dan pendusta. Hadd Qadzf itu adalah berupa 80 kali sebatan jika pelakunya (Qadzif) seorang yang merdeka sedangkan apabila ia seorang budak, maka separuhnya, iaitu 40 kali sebatan

5. Hadd Qadzf gugur bila terdapat salah satu dari empat hal berikut:
Pertama, Pemberian ma’af dari korban tertuduh (Maqdzuf). Qadzif tidak dapat dikenai hadd kecuali melalui permintaan menurut ijma’ ulama.
Kedua, Si korban membenarkan apa yang dituduhkan Qadzif
Ketiga, Menghadirkan bukti atas kebenaran ‘Qadzf’
Keempat, Bila seorang suami menuduh isterinya lalu ia melakukan ‘mula’anah.’

6. Qadzf memiliki beberapa hukum:
1. HARAM: bila berita yang disampaikan bohong
2. WAJIB: atas seorang (suami) yang melihat isterinya berzina, kemudian melahirkan anak yang memperkuat sangkaannya bahwa ia hasil perzinaan dengan teman zinanya.

3. MUBAH: bila seorang (suami) melihat isterinya berzina tetapi tidak melahirkan dari perbuatan itu sehingga mengharuskannya untuk menafikan terjadinya hal itu. Dalam hal ini, ia diberi pilihan antara berpisah dengannya atau menuduhnya. Namun berpisah dengannya adalah lebih utama daripada menuduhnya sebab lebih menutup ‘aib. Di samping, karena konsekuensi dari menuduhnya adalah salah satu dari keduanya harus bersumpah di mana salah satunya lagi pastilah seorang pendusta atau pun ia (isterinya) itu mengakui perbuatan itu sehingga ini membongkar aibnya.

Naskah Hadits

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, Li’an pertama yang terjadi dalam Islam (disebabkan), Syarik bin Sahma’ dituduh berzina oleh Hilal bin Umayyah dengan isterinya (Hilal), maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “(Tunjukkan) bukti, bila tidak, maka hadd (hukuman cambuk) di punggungmu.” (Hadits ini dikeluarkan Abu Ya’la, para periwayatnya adalah para periwayat Tsiqat. Di dalam shahih al-Bukhari juga terdapat lafazh sepertinya dari hadits Ibn Abbas RA)

Derajat Hadits

Derajat hadits ini Shahih. Abu Ya’la berkata, “Para periwayatnya adalah para periwayat Tsiqat. Hadits ini memiliki Syahid (riwayat penguat) dari hadits Ibn Abbas RA di dalam shahih al-Bukhari yang di dalam shahih Muslim berasal dari hadits Anas.

Pelajaran Hadits

1. Secara hukum asal, siapa yang menuduh berzina terhadap laki-laki Muhshan (yang sudah beristeri), maka maka ia harus mengajukan bukti. Bukti dalam kasus zina adalah berupa persaksian empat orang laki-laki; bila tidak mengajukan bukti ini, maka orang tersebut (si penuduh) harus dikenakan hukum Hadd Qadzf sebanyak 80 kali cambuk. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka orang menuduh itu) delapan puluh kali dera…” (QS.an-Nur:4)

2. Terkecuali dari makna umum ayat di atas, kasus seorang laki-laki (suami) menuduh isterinya berzina; maka ia harus mengajukan empat orang saksi; jika tidak ada, maka Hadd Qadzf boleh dicegah dengan syarat ia bersumpah sebanyak empat kali bahawa ia berkata benar terhadap tuduhan zina itu dan kali kelimanya, ia melaknat dirinya sendiri seraya mengatakan, “Dan laknat Allah lah atasnya bila ia berdusta.” Dengan begitu, persaksian itu baru boleh diajukan apabila sudah melengkapi empat orang saksi.

3. Hal itu, kerana seorang lelaki (suami) tidak mungkin berdiam saja ketika melihat isterinya melakukan perbuatan keji (zina) sebagaimana kalau ada orang melihatnya bersama wanita asing, sebab hal itu merupakan aib baginya (suami), pelanggaran terhadap kehormatannya dan perosak ranjangnya. Kerana itu, ia tidak boleh menuduh isterinya kecuali setelah melakukan pemeriksaan sebab tindakannya itu biasanya didorong oleh faktor cemburu yang teramat sangat, sebab pada dasarnya, aib akan diterima mereka berdua (sebagai suami-isteri). Jadi, inilah yang menguatkan kebenaran klaimnya.

4. Hadits di atas menunjukkan bahawa Hilal bin Umayyah telah menuduh Syarik berzina dengan isterinya (Hilal) di mana Qadzf (tuduhan berzina) terhadap isteri hanya terungkap secara jelas.

5. Masalah ini diperdebatkan para ulama:
Dua Imam madzhab; Abu Hanifah dan Imam Malik memandang bahawa orang yang menuduh lelaki lain berzina dengan isterinya, maka ia harus mengajukan bukti atas hal itu, sebab bila tidak, maka ia dikenakan hukuman Hadd.

Alasannya, kerana hal itu merupakan tuduhan berzina terhadap orang yang seharusnya tidak perlu dituduh sehingga ia berada dalam posisi hukum asal Hadd Qadzf.

Ibn al-‘Arabi berkata, “Inilah makna zhahir dari al-Qur’an sebab Allah SWT meletakkan hukum Hadd bagi tuduhan berzina terhadap orang asing dan isteri secara mutlak, kemudian Dia mengkhususkan bagi isteri agar terhindar darinya dengan cara Li’an. Dengn begitu, makna mutlak ayat tersebut hanya terarah kepada orang asing itu. Ada pun kenapa nabi SAW tidak melaksanakan Hadd terhadap Hilal setelah menuduh Syarik, sebab ia tidak memintanya padahal Hadd Qadzf itu hanya boleh ditegakkan oleh Imam setelah adanya permintaan menurut ijma’ ulama.”

Sementara dua Imam madzhab lagi; imam asy-Syafi’i dan Ahmad memandang bahawa bila suami menuduh isterinya berzina dengan lelaki tertentu, kemudian ia melakukan Li’an, maka telah gugur atasnya Hadd dan jatuh kepada isterinya. Siapa yang menuduhnya (isterinya) berzina, maka dia harus menyebutkannya dalam Li’an atau tidak menyebutnya sebab Li’an memerlukan bukti dari salah satu dari kedua belah pihak, sehingga ia menjadi bukti pada pihak yang lain seperti kedudukan persaksian. Jika suami tidak melakukan Li’an, maka bagi masing-masing dari suami dan lelaki yang dituduh berzina dengan isterinya itu harus menuntut dilakukannya Hadd; siapa saja di antara keduanya yang meminta, maka ia sendiri yang dihukum Hadd dan tidak dapat dikenakan kepada yang belum memintanya.

Kedua imam itu (asy-Syafi’i dan Ahmad-red) berdalil dengan hadits yang kita kaji ini, sebab Hilal bin Umayyah menuduh Syarik berzina dengan isterinya (Hilal) namun Rasulullah SAW tidak menghukum Hadd atasnya. Sedangkan sabda beliau SAW kepada Hilal bin Umayyah, “(Tunjukkan) bukti, jika tidak maka hadd (hukuman cambuk) di punggungmu”, maka bukti di sini adalah persaksian-persaksian dalam Li’an yang posisinya sama dengan empat orang saksi. Walahu a’lam!

(SUMBER: Tawdhiih al-Ahkaam Min Buluugh al-Maraam karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Jld.V, hal.302-303).

0 comments

Post a Comment

JOM KLIK IKLAN

Blog Archive